Sabtu, 29 September 2012

Pertama di dunia, anak hasil perkawinan sapi dengan banteng






Gubernur Jawa Timur, Soekarwo, memberi nama sapi spesies baru yakni "Jaliteng" (Jawa Timur, Bali, Banteng) di Taman Safari Indonesia II Prigen, Pasuruan, Jawa Timur, Selasa (17/7).

"Sapi Jaliteng merupakan hasil persilangan antara induk Sapi Bali betina dengan banteng jantan asal Taman Nasional Baluran," kata Direktur Taman Safari Indonesia, Tony Sumampau.

Sapi spesies baru Jaliteng itu merupakan bukti keberhasilan kerja sama antara Taman Safari Indonesia II Prigen dengan Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dalam menyilangkan sapi Bali betina dengan banteng jantan asal Taman Nasional Baluran.

Menurut Tony Sumampau, kerja sama TSI II Prigen dengan Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur itu untuk memperbaiki genetika sapi Bali di Jawa Timur yang jumlahnya semakin tahun semakin menurun, serta kondisi fisiknya yang terus mengecil.

Sementara untuk mendatangkan sapi Bali terkendala regulasi yang melarang Sapi Bali keluar dari habitat aslinya. Pemerintah Provinsi Jawa Timur pun mengambil langkah menyilangkan sapi Bali di Jawa Timur dengan banteng.

Tony Sumampau menyebutkan, dari 10 ekor sapi Bali yang dikawinkan dengan banteng jantan secara alami tercatat sembilan ekor bunting.

Empat ekor telah melahirkan empat pedet (anak sapi) yang semuanya jenis jantan, dan lima ekor masih bunting yang diperkirakan seekor akan lahir pada awal Ramadan. Pedet hasil persilangaan lahir dengan bobot rata-rata sekitar 20 kilogram atau lebi besar dibandingkan dengan pedet sapi Bali yang hanya sekitar 15 kilogram.

Pertumbuhan pedet Jaliteng juga lebih cepat, dalam kurun waktu sekitar sebulan bobotnya telah mencapai 40 kilogram, sementara pedet sapi Bali hanya sekitar 20 kilogram.

Jika telah dewasa nanti, semen dari pedet Jaliteng akan dimanfaatkan untuk kepentingan inseminasi buatan untuk memperbaiki genetika sapi-sapi milik peternak di Jawa Timur, sedangkan banteng-banteng yang terus berkembang biak di Taman Safari Prigen nantinya akan dilepasliarkan ke habitat aslinya di Taman Nasional Baluran.

Gubernur Jawa Timur, Soekarwo, memberikan apresiasi kepada Taman Safari Indonesia II Prigen dan Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur yang telah berhasil menyilangkan Sapi Bali dan Banteng.

"Ini merupakan keberhasilan pertama kali di tingkat dunia," kata Gubernur Jawa Timur yang akrab disapa Pakde Karwo itu.

Pakde Karwo juga mengungkapkan, sapi spesies baru Jaliteng yang merupakan hasil persilangan antara sapi Bali betina dan banteng jantan itu akan dipatenkan.

"Jepang juga telah mempunyai niat serupa, karena itu kami akan mematenkan keberhasilan persilangan itu agar kekayaan plasma nutfah Indonesia tidak dicuri bangsa lain," katanya."

"Saya Tunggu Komentar dan Saran Anda"


Sumber :  http://m.merdeka.com/

Tantangan dalam Industri Peternakan


                Industri peternakan merupakan industri strategis karena industri ini adalah penyedia protein hewani yang sangat dibutuhkan masyarakat modern, sekaligus mampu menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar. Namun, saat ini Indonesia belum mampu berswasembada dua produk utama peternakan, yakni daging dan susu.
Produk peternakan seperti daging sapi masih dipenuhi dari impor (30%). Sedangkan impor susu bahkan mencapai 70%. Adapun untuk produk perunggasan yakni telur dan daging sudah bisa swasembada. Industri perunggasan merupakan industri yang memiliki struktur industri kuat, dengan didukung oleh industri pakan, bibit, sarana kesehatan ternak dan industri budidaya yang telah mapan. Tantangan di industri perunggasan adalah konsumsinya yang masih rendah dibanding negara-negara tetangga. Namun seiring dengan peningkatan pendapatan per kapita masyarakat, akan naik pula konsumsi akan telur dan daging ayam.


Menurut Wakil Menteri Pertanian Dr. Bayu Krisnamurthi beberapa waktu lalu, ada tiga permasalahan utama yang harus dihadapi oleh industri peternakan Indonesia. ”Pertama adalah masalah tata ruang, kedua berkaitan dengan struktur sistem agribisnis, dan terakhir adalah masalah kesehatan hewan dan veteriner,” ungkap Bayu. Untuk permasalahan pertama yang berkaitan dengan tata ruang, terlihat dengan semakin tersingkirnya lokasi peternakan, terutama oleh pemukiman penduduk. Sedangkan, dari struktur sistem agribisnis, saat ini kondisinya tidak berimbang, antara on farm, pengolahan, dan ritel. Dan, permasalahan terakhir adalah semakin banyaknya penyakit baru yang berasal dari hewan (zoonis). Bayu mengatakan, bahwa pada abad 21 ini, ancaman terhadap kesehatan manusia yang berasal dari hewan mencapai 60%.

Walau demikian, optimisme pertumbuhan industri peternakan datang dari pemerintah, yang menargetkan swasembada daging sapi pada 2014, pemerintah telah memberi subsidi khusus bagi industri pembibitan untuk mewujudkan target itu. Namun Direktur Manajemen Bisnis (MB) IPB, Dr. Arief Daryanto juga mengingatkan agar pemerintah memberikan kemudahan dalam hal birokrasi perijinan dalam membangun bisnis peternakan. Menurutnya, beberapa kendala yang mengurangi daya saing industri peternakan, berasal birokrasi pemerintahan yang tidak efisien, infrastruktur yang kurang memadai, kondisi politik yang tidak stabil, serta akses perbankan yang sangat terbatas. Hal-hal tersebut harus diperbaiki pemerintah agar industri peternakan bisa tumbuh lebih pesat. Tantangan lainnya adalah pemasaran produk peternakan yang sebagian besar masih berupa komoditi. ”Sebanyak 80% produk hasil ternak dijual dalam bentuk komoditi, dan hanya 20% saja yang dipasarkan dalam bentuk olahan,” tutur Arief.

Untuk strategi kebijakan ke depan, Arief Daryanto memaparkan beberapa langkah strategis yang dapat dilakukan:
Pertama,
mempertahankan kebijakan impor sapi bakalan yang telah memberi implikasi mengurangi pengurasan ternak di wilayah sentra produksi dan pada sisi lain kebutuhan daging di wilayah sentra konsumsi dapat terpenuhi, sehingga inflasi dapat ditekan. Jumlah impor sapi bakalan tersebut harus dengan mempertimbangkan tingkat pengurasan dan tingkat kemampuan produksi dalam negeri. Untuk mengetahui secara persis berapa jumlah impor yang layak dari tahun ke tahun, perlu dilakukan kajian lebih seksama.
Kedua,
pengembangan komoditas jagung domestik harus terus dilanjutkan. Hal ini disebabkan jagung merupakan komponen utama pakan ternak unggas. ”Dan lagi pula negara-negara yang memiliki daya saing tinggi dan berkelanjutan, sangat tergantung pada pasokan komoditas jagung domestik,” kata Arief. Ia mencontohkan, tiga negara utama dunia penghasil daging ayam, yakni AS (22%), Cina (15%) dan Brazil (12%). Selain itu, penghasil telur dunia yakni Cina (41%), UE (9%) dan AS (9%) juga merupakan negara penghasil jagung utama dunia. Ketersediaan pasokan jagung dalam negeri akan mampu meredam kenaikan harga pakan yang cenderung meningkat –karena jagung dunia yang semakin berkurang karena banyak tersedot untuk kebutuhan pangan (food) dan minyak nabati (fuel).
Ketiga,
perdagangan ternak karkas dengan rantai dingin untuk menggantikan perdagangan ternak hidup. Perdagangan ternak yang selama ini dalam kondisi masih hidup tidak efisien karena terlalu banyak mengeluarkan retribusi, serta risiko kematian selama perjalanan, juga berpotensi sebagai sarana penyebaran penyakit ternak. Untuk menunjang perdagangan ternak dalam bentuk karkas ini, Arief menyarankan agar pemerintah menyediakan Rumah Pemotongan Ayam dan Rumah Pemotongan Hewan modern di sentra produksi unggas di tingkat kabupaten.
Keempat,
pemerintah harus lebih serius dalam melakukan penanggulangan dan pencegahan wabah penyakit menular, khususnya penyakit Avian Influenza (AI). Kebijakan promosi keamanan mengonsumsi produk asal ternak juga sangat penting. Promosi juga sebaiknya berisi upaya peningkatan kesadaran masyarakat tentang penyakit ternak, khususnya AI dan dampaknya bagi kesehatan manusia dan industri peternakan ayam.

Kelima,
kebijakan menciptakan iklim usaha yang kondusif untuk dapat merangsang investor baik dari dalam maupun luar negeri. Beberapa faktor yang sangat berpengaruh pada baik dan tidaknya iklim investasi di Indonesia bukan hanya menyangkut kestabilan politik dan sosial, namun juga stabilitas ekonomi, serta kondisi infrastruktur dasar seperti listrik, telekomunikasi, serta prasarana jalan dan pelabuhan.
Keenam,
kebijakan pemerintah untuk mendorong agar usaha peternakan dapat berkembang lebih pesat. Di antaranya yakni dukungan agar usaha peternakan dapat berkembang secara integratif dari hulu hingga hilir mlalui kemitraan usaha. Dukungan lainnya adalah kebijakan pemerintah dalam hal perlindungan industri perunggasan domestik dari serbuan produk luar ngeri yang tidak ASUH, ilegal dan produk dumping. Fri-08

"Saya Tunggu Komentar dan Saran Anda"


Sumber :  http://www.foodreview.biz

Memahami Pelaksanaan Sertifikasi Bibit Ternak Sapi


Sertifikasi dapat diartikan sebagai penerbitan sertifikat terhadap ternak dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas ternak sapi. Sertifikat berhak dikeluarkan oleh pembibit yang telah tersertifikasi oleh lembaga sertifikasi produk atau yang ditunjuk oleh Menteri Pertanian. Untuk dapat memperoleh sertifikat ini, pembibit diharuskan oleh Direktorat Perbibitan Direktur Jenderal Peternakan untuk menerapkan Good Breeding Practice (GBP), yaitu pedoman pembibitan ternak yang baik.
Tema mengenai pelaksanaan sertifikasi bibit ternak sapi diulas oleh Ir. I Gede Suparta Budisatria, M.Sc., Ph.D dalam Pelatihan Teknis Agribisnis Ternak Sapi Potong bagi aparatur Dinas Pertanian Provinsi DIY, Senin (10/9) di Ruang Sidang Besar Fakultas Peternakan. Menurut Gede, salah satu hal penting untuk dapat dilaksanakannya sertifikasi adalah penetapan garis keturunan ternak atau bangsa yang jelas. “Idealnya, sertifikasi dapat dilaksanakan apabila ternak sudah diakui dengan surat dari SK Menteri Pertanian melalui penetapan rumpun atau galur. Saat ini, pemerintah melalui Direktur Perbibitan sedang gencar-gencarnya melakukan penetapan rumpun ternak. Penetapan rumpun dinilai urgent karena ternak-ternak kita sudah banyak dilirik,” jelas Kepala Laboratorium Ternak Potong, Kerja dan Kesayangan Fakultas Peternakan tersebut.
Sertifikasi idealnya dikeluarkan oleh asosiasi namun saat ini di Indonesia sertifikasi ternak dapat dikerluarkan oleh lembaga sertifikasi yang terakreditasi atau yang ditunjuk oleh Menteri Pertanian, Lembaga Sertifikasi Sistem Manajemen Mutu (LSSM) dan Lembaga Sertifikasi Produk (LS Pro) bibit yang terakreditasi kemudian pelaksanaan sertifikasi bibit diterbitkan oleh pembibitan yang telah memiliki sertifikat sistem mutu atau dinas provinsi.
Mengapa sertifikasi diperlukan? Gede menjelaskan ada beberapa hal mengapa sertifikasi ternak menjadi penting. Pertama, sertifikasi dilakukan untuk mengamankan plasma nutfah karena saat ini banyak negara sangat tertarik dengan keanekaragaman ternak Indonesia. Kedua, sertifikasi diperlukan guna meningkatkan daya saing produk bibit. Selama ini, pemerintah tidak pernah memberikan penghargaan terhadap peternak-peternak yang melakukan pembibitan dan tidak pernah ada standarisasi yang kemudian dimasukkan ke dalam kelas bibit. Akhirnya, wajar apabila peternak lebih suka melakukan kawin suntik atau melakukan penggemukan terhadap ternaknya. Ketiga, sertifikasi memberikan kesempatan untuk menerapkan pelaksanaan pembibitan ternak yang baik dan melindungi konsumen dari bibit tidak standar.
Bagi peternak, penerapan Good Breeding Practice dalam rangka memperoleh sertifikasi dinilai berat karena banyaknya checklist sertifikasi yang harus dipenuhi antara lain catatan sumber air, catatan RUTR wilayah setempat, catatan AMDAL lokasi unit pembibitan, dan sebagainya. “Sulit tapi inilah poin-poin yang akan dinilai,” kata Gede.
Untuk memperoleh sertifikasi, Gede menjelaskan proses-proses yang harus dilalui oleh peternak. Pertama, pembibit diminta untuk mengirimkan surat kepada Direktur Perbibitan yang isinya menyatakan bahwa telah melakukan GBP. Kemudian, Direktur Perbibitan akan mengirimkan petugas untuk melakukan verifikasi dokumen yang dilanjutkan dengan tinjauan lapangan. Tim verifikasi akan membuat rangkuman mengenai poin-poin yang sudah ataupun belum memenuhi checklist yang telah dibuat pembibit. Apabila ditemukan poin-poin yang tidak sesuai dengan kondisi di lapangan, maka perlu dilakukan revisi. Peternak berhak memperoleh sertifikasi yang berlaku selama 3 tahun setelah mampu memenuhi persyaratan sertifikasi yang ditetapkan oleh Direktur Perbibitan.  (Humas Fapet/Nadia)

 "Saya Tunggu Komentar dan Saran Anda"

Sumber :  http://fapet.ugm.ac.id

Ironi Susu Sapi


Riani Susanto, dokter naturopati, enggan memberikan anaknya susu sapi hasil perahan industri. Menurut dia, selama cukup mengkonsumsi makanan sehat dan berkualitas, orang akan tetap sehat. Dia memandang susu bukan sebagai makanan pokok. Ia lebih memilih memberi keluarganya susu organik.

Pasalnya, dia melihat ketidakwajaran dalam proses industri sapi perahan. Menurut Riani, proses pemerahan susu sapi dari industri itu dipaksakan. Alaminya, kalau sapi--seperti juga manusia--melahirkan dahulu, baru mengeluarkan susu. Tapi demi mengejar target, sapi disuntik hormon tertentu agar bisa menghasilkan susu. Otomatis susu mengandung hormon. "Apalagi sapi juga diberi antibiotik untuk mencegah infeksi," ujar Rani.


Nah, pengaruh hormon dan antibiotik itu pasti dosisnya besar dan tidak cocok untuk manusia. Karena itu, kata dia, banyak penyakit aneh timbul. Berdasarkan sejumlah studi luar negeri, disebutkannya, penyakit aneh itu seperti perempuan yang berjakun. "Ada pula wanita usia 10-11 tahun suaranya berubah seperti laki-laki," ia bercerita.

Susu yang baik, menurut Riani, tidak mengandung hormon, antibiotik, dan rekayasa genetika. Dan juga tanpa tambahan perasa serta pemanis buatan. Sedangkan pada susu industri banyak ditambahkan segala macam tambahan, seperti vitamin dan DHA. "Tambahan hanya mempunyai nilai jual," kata dokter naturopati lulusan dari Negeri Abang Sam ini.

Tak aneh jika sejumlah orang mulai menggeser susu sapi dari menu makanannya. Mereka bersikap apatis terhadap kualitas susu hasil perahan dari sapi yang juga diduga makan makanan selain rumput.

Memang, kata Hendro Horijogi Poejono, Direktur Human Resources and Corporate Affair PT Frisian Flag Indonesia, sapi di Indonesia tak seperti di Belanda, yang dilepas di padang rumput. Di Indonesia, kebanyakan sapi dikandangkan karena kurangnya area. "Sehingga cuma mendapatkan rumput secukupnya dari sekelilingnya," kata Hendro di Surabaya beberapa waktu lalu.

Masalahnya, saat musim kemarau sapi tidak mendapat rumput sebagaimana mestinya. Akhirnya, karena kurangnya ketersediaan lahan, banyak sapi makan palet--makanan khusus untuk hewan yang terbuat dari terigu.

Menurut Hendro, sapi Jawa Timur lebih beruntung, karena banyak perkebunan seperti cokelat. "Ampasnya bisa untuk campuran pakan," Hendro melanjutkan. Kalau di Jawa Tengah dan Jawa Barat, banyak sapi makan palet. Namun demikian, dia tidak melihat sapi Indonesia makan makanan berbahan kimia. "Apalagi disuntik hormon," dia menegaskan.

Makanan sapi memang mempengaruhi kualitas susu. Tengoklah studi Persatuan Ahli Gizi di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Menurut Ketua Persatuan Ahli Gizi Jawa Timur Andryanto, MKes, studi itu menunjukkan bahwa air dan tanah di Ponorogo yang rendah yodium mempengaruhi kualitas susu dan daging sapi di sana.

Namun, Persatuan Ahli Gizi belum meneliti sapi yang diberi makanan berbahan kimia dan suntikan hormon. Yang jelas, kata Andryanto, apa pun yang dimakan sapi, susunya sudah berproses sedemikian rupa. Dianalogikan, seorang ibu yang makan sambal tapi air susu ibu (ASI)-nya tidak berasa pedas. "Apakah bisa disamakan dengan sapi, bisa saja iya," ujarnya.

Sebuah studi yang dilansir situs Toronto Vegetarian Association pada 2005 menemukan bahwa ada sesuatu dalam susu yang dapat menyebabkan reaksi imunitas yang merusak produksi sel insulin pada anak diabetes. Studi itu juga melihat bahwa bayi yang diberi ASI dan tidak diberi susu sapi memiliki perlindungan terhadap diabetes.

Studi pada 2003 yang melibatkan 4.701 sampel usia 10-16 tahun dari 11 negara Eropa itu menyimpulkan, menghindari susu sapi diindikasikan bisa menunda atau mencegah diabetes pada individu yang rentan. Lebih jauh ditemukan, susu sapi dan konsumsi produk hewan terkait dengan tingkat risiko lebih tinggi pada diabetes tipe 1.

Profesor Hiromi Shinya, dari Surgery at Albert Einstein College of Medicine, New York, berpendapat lebih ekstrem lagi. Dalam bukunya, The Miracle of Enzyme, ia mengatakan susu adalah makanan paling buruk buat manusia. "Mana ada anak sapi minum susu manusia," ujarnya.

Hiromi beralasan susu itu mengganggu fungsi enzim di dalam tubuh dan membuat tugas usus semakin berat. Tubuh terpaksa mengeluarkan cadangan enzim induk yang seharusnya dihemat. Nah, enzim induk ini untuk pertumbuhan, termasuk pertumbuhan tulang. Namun, karena enzim induk banyak dipakai membantu mencerna susu, peminum susu, menurut dia, lebih berisiko terkena osteoporosis.

Sementara itu, ahli gizi dan pangan Institut Pertanian Bogor, Profesor Dr Ir Hardinsyah, mengatakan orang yang terlalu banyak makan protein hewani, termasuk susu sapi, memang bisa meningkatkan pembuangan kalsium atau terjadi pemborosan kalsium dalam tubuhnya. Jadi banyak makan makanan hewani membuat tubuh berisiko kekurangan kalsium.

Tapi, menurut Hardinsyah, hal itu berlaku bagi penduduk yang banyak mengkonsumsi pangan hewani. Sedangkan umumnya penduduk Indonesia, menurut dia, masih kekurangan kalsium dan makanan hewani. "Jadi aman saja minum susu."





                                  "Saya Tunggu Komentar dan Saran Anda"

HERU TRIYONO
source: TempoInteraktif

Peternakan Sapi Perah Terbesar di Asia Tenggara


Peternakan sapi perah milik PT Greenfields di desa Babadan, lereng Gunung Kawi, Malang, Jawa Timur, tercatat sebagai yang peternakan terbesar di Indonesia, bahkan se-Asia Tenggara, demikian dilaporkan detik.com. Sebayak 6.000 ekor sapi holstein dikembangbiakkan disana untuk diambil susunya, dan setiap tahun menghasilkan 20 juta liter susu murni.


Peternakan PT Greenfields Indonesia, sebagaimana dilansir oleh situs resminya, dirancang dan dikembangkan oleh para ahli dan profesional dari Australia dan Amerika Serikat. Peternakan canggih ini dilengkapi dengan bangsal pemerahan susu, kandang-kandang dengan udara terkendali, serta peralatan pemberian makan yang terkendali pula.

Setiap tahun supervisor dan manajer dari peternakan ini dipilih untuk menjalani pelatihan intensif di kedua negara itu agar mereka selalu mengikuti beberapa teknik mutakhir di berbagai bidang peternakan dan perusahaan susu modern.


Peternakan ini dikelola dengan sistem 'Herd Information' yang diimpor dari Amerika. Sistem ini mencatat informasi strategis dari setiap sapi seperti data keturunan, jumlah makanan, riwayat produksi susu, kesehatan, dan status reproduksinya.

PT Greenfields Indonesia mengimpor sapi perah mutu terbaik jenis Holstein dari Australia, yang secara khusus dipilih dengan sistem komputer DHIA untuk menentukan anak-anak sapi kelas utama berumur 10 - 12 bulan. Sapi yang terpilih, dan dinyatakan layak, kemudian dibesarkan di Australia sebelum dikirim ke peternakan kami di Malang.


Untuk menjamin dihasilkannya mutu susu terbaik, kesehatan dan nutrisi sapi - sapi perah ini terus diawasi secara ketat. Pakan sapi berkualitas diantaranya berasal dari rumput, pohon jagung, hingga makanan khusus yang diimpor dari Australia.


Seekor sapi di peternakan ini setiap harinya mampu menghasilkan 27 liter susu. Suasana tenang di pegunungan memberikan rasa nyaman bagi sapi yang ditempatkan di peternakan dan pabrik pengolahan yang terintegrasi tersebut.

Kamis, 27 September 2012

Sapi Terbesar di Dunia

Sapi bisa ditemukan dengan mudah di negara - negara yang masyarakatnya memiliki mata pencaharian dalam bidang berkebun atau pertanian. Tidak hanya di Indonesia, di beberapa negara di belahan Australia dan Eropa serta Amerika juga banyak terdapat sapi yang tidak hanya dimanfaatkan sebagai sapi potong serta diambil hasil susunya namun juga seperti di Indonesia, dimanfaatkan tenaganya untuk membantu petani mengolah tanah sawahnya. Di dunia ini terdapat beberapa sapi yang memiliki ukuran sangat besar dan seiring bertambahnya waktu, beberapa sapi - sapi terbesar sebelumnya digese dengan keberadaan sapi - sapi baru yang memiliki ukuran lebih besar dari sapi - sapi sebelumnya. Hingga tahun 2012 ini, rekor sapi terbesar di dunia masih dipegang oleh BIG COW CHILI yang berasal dari Chard, Somerset.
Big Cow Chili ini memiliki berat tubuh hingga 1250 kilogram. Sedangkan tinggi tubuh sapi terbesar di dunia ini mencapai 6 feet 6 inci. Sehingga saat orang bule yang notabene terkenal memiliki tinggi tubuh melebihi tinggi rata-rata orang Asia berdiri tegak masih tetap kalah tinggi dengan si sapi terbesar di dunia ini. Dengan berat tubuh sebesar 1250 kilogram, maka sapi terbesar di dunia ini akan mampu menghasilkan 3.500 beef burger dan 7.500 sosis. Tidak heran bila pernah ada orang yang menawar sapi ini dengan harga 20.000 Pounsterling. Namun sang pemilik, Naomi Clarke, tidak menginginkan sapi terbesar di dunia miliknya jatuh ke tangan orang lain.
Pertumbuhan Big Cow Chili yang tidak wajar telah disadari oleh pemiliknya sejak dia masih kecil sampai akhirnya sapi terbesar di dunia ini terus tumbuh seiring dengan berjalannya waktu. Keseharian Big Cow Chili hanya dihabiskan dengan memakan banyak rumput serta mendapatkan pijatan - pijatan di beberapa bagian tubuhnya. Sang pemilik memang terlihat sangat menyayangi sapi terbesar di dunia ini. Apalagi sejak Guinness Book of Record menyatakan bahwa Big Cow Chili merupakan sapi terbesar di dunia walaupun secara resmi tidak bisa dituangkan dalam sebuah lembar sertifikat karena 5 bulan sebelum surat permohonan dari sang pemilik diterima oleh museum rekor dunia tersebut telah ditetapkan sapi terbesar di dunia dipegang oleh sapi yang bernama Marshal yang memiliki berat 3000 lb. 
Bila dirunut dari daftar sapi - sapi yang berukuran tidak wajar, kita bisa menemukan sapi yang memiliki tinggi 6 feet 8 inci yang bernama Fiorino yang berasal dari Italy namun berat badan sapi ini terpaut sedikit lebih ringan bila dibanding dengan Big Cow Chili. Rekor sapi terbesar di dunia sebelumnya pernah dipegang oleh The Colonel, sapi yang berasal dari Inggris, yang memiliki tinggi tubuh 6 feet 5 inci serta berat tubuh 3500 lb namun telah mati pada tahun 2005 lalu.

 "Saya Tunggu Komentar dan Saran Anda"
Sumber :  http://carapedia.com

Melihat Produksi Daging Sapi Australia bersama MLA



 
Beberapa waktu lalu, Majalah Sedap mendapat kehormatan untuk berkunjung ke Australia atas undangan Meatlive Stock Australia (MLA). Kami berkesempatan melihat proses peternakan sapi, sejak diternakkan hingga siap dikirimkan ke sejumlah negara. Kualitas dan higienitasnya betul-betul terjaga sempurna. Tak heran Australia menjadi salah satu eksportir daging sapi terbaik di dunia.


MLA adalah organisasi non profit yang memiliki misi untuk mengedukasi manfaat daging sapi Australia ke seluruh Dunia. Salah satunya dengan bekerjasama dengan media massa untuk menyebarkan informasi bermanfaat ini. Dalam kunjungan ke Australia kali ini, SEDAP mendapatkan informasi seputar daging sapi. Mulai dari cara sapi diternakkan, proses produksi, higienitas, hingga daging siap diekspor.  Begitu juga proses pemotongan daging yang terjaga kehalalannya. “Tujuannya untuk mendapatkan kualitas makan (eating quality) yang maksimal dalam mengonsumsi daging sapi,” ujar Aaron Lori, selaku Regional Manager MLA kawasan South East Asia/Greater China.
Diternakkan secara alami
Sejak tahun 1788, Australia dikenal sebagai negara pengekspor sapi, bahkan kini sudah mengekspor hingga ke lebih dari 100 negara. Salah satu kunci kesuksesannya terletak pada proses ternaknya yang alami, didukung dengan iklim bagus, teknologi canggih, dan sistem yang terjaga baik sejak sapi lahir, hingga siap ekspor.
Rumput yang  tumbuh di Australia kaya kandungan karoten, dan bebas pestisida. Sapi yang hidup di alam ini dibiarkan bebas menikmati pakan rumput. Proses pemberian pakan sapi seperti ini disebut natural grassfed. “Keistimewaan sapi yang diberi pakan alami akan menghasilkan daging yang rendah lemak, bertekstur lembut, lebih  kaya rasa, dan pasti lebih sehat karena bebas bahan kimia,” imbuh Aaron.
Grainfed
Seluruh ternak sapi diberi makan rumput alami (grassfed) hingga  berusia 6 bulan. Setelah itu, sapi digemukkan dengan pemberian pakan khusus berupa aneka biji-bijian. Proses pemberian pakan ini disebut grainfed. Grainfed biasanya terdiri dari canola meal, wheat, canola oil, dan berbagai jenis gandum. Takaran komposisi pakan biji-bijian ini sudah diperhitungkan sehingga menghasilkan daging berkualitas baik, di antaranya lebih tinggi protein, rendah karbohidrat, kaya serat, dan rendah lemak.
Sapi yang sudah memasuki periode grainfed hidup bebas di tanah peternakan yang luas. Kawasan ini dikenal dengan nama feedlot. Fungsinya kurang lebih sebagai tempat menggemukkan sapi. Proses pemberian grainfed di feedlot memiliki waktu yang berbeda-beda. Biasanya berkisar antara 100 - 400 hari, tergantung kualitas daging yang diinginkan. Semakin lama periode grainfed, maka daging yang dihasilkan akan semakin bagus dan lezat.  “Periode grainfed sangat tergantung permintaan pasar,” ujar Geoff Pearson, pemilik TW Pearson&Son, salah satu feedlot terbesar di Australia Barat.
Dibandingkan sapi diberi hanya diberi pakan rumput alami (grassfed), maka sapi grainfed memiliki beberapa keunggulan. Di antaranya tingkat keempukan yang lebih baik, sebaran otot yang merata (marbleing), dan kandungan omega 6 yang lebih tinggi dibandingkan sapi grassfed.
Food safety dan traceability systemDaging sapi yang enak harus berasal dari sapi yang sehat, diolah dengan tepat, dan terjamin keamanan pangannya. Lantas bagaimana caranya mengontrol ribuan sapi agar terjamin kesehatannya? Ternyata peternak di seluruh Australia menerapkan teknologi traceability system. Sesuai namanya, sistem ini gunanya untuk menelusuri dan mengidentifikasi asal-usul ternak, lokasinya, hingga gerakan sapi secara terpadu agar kualitas sapi terkontrol sejak awal. ?Traceability system diterapkan dengan cara memasang sebuah chip pada telinga sapi. Geoff menjelaskan chip pada sapi tidak akan menyakiti sapi dan sudah dipasang sejak bayi sapi baru lahir. “Chip akan terus terpasang di telinga hingga sapi siap dipotong,” tambahnya.
Dengan teknologi ini, setiap sapi yang tidak sehat bisa diindentifikasi melalui gerakan atau lokasi sapi berada.  Begitu juga data mengenai kapan dan di mana sapi dilahirkan. “Di Australia data seekor sapi sangat penting,” tegas Geoff.
Harvey Abattoir
Setelah sapi diternakkan dengan baik dan dinyatakan siap ekspor, maka ternak sapi akan dibawa ke tempat pejagalan (abattoir). Salah satu tempat pejagalan ternama di Australia adalah Harvey Beef yang tak asing lagi di dunia perdagingan Australia karena menerapkan sistem pemotongan hewan yang canggih dan terjaga kebersihannya. Perusahaan ini menguasai ekspor daging sapi ke lebih dari 30 negara seperti Jepang, Korea, Taiwan, Timur Tengah, Amerika, dan termasuk pemasok terbesar ke Indonesia.
Salah satu keunggulan Harvey Abattoir adalah memisahkan areal proses pemotongan sapi secara halal dan non halal. Sapi yang dipotong secara halal dilakukan dan disaksikan moslem representative, dan dibuktikan dengan sertifikat halal. Menurut Ralph Capone selaku Quality Assurance Manager Harvey Beef, sapi yang ukurannya sangat besar tidak akan memungkinkan disembelih secara Islam. Sapi ini akan langsung dikategorikan sapi tidak halal. Caranya dengan menembak sapi raksasa ini tepat di bagian dahinya.?Sementara sapi yang dipotong secara islam dilakukan dengan cara menyembelih lehernya menghadap kiblat, dan diproses sesuai syariah Islam. Ukuran sapi yang disembelih secara halal usianya tak lebih dari 8 bulan – 1 tahun dengan rata-rata bobotnya mencapai 150 kilogram. Sedangkan sapi muda (veal), beratnya tidak lebih dari 70 kilogram saja.
Untuk proses menguliti dan pemotongan daging digunakan sistem conveyor belt (rel berjalan). Sapi dikaitkan secara menggantung dengan posisi leher di bawah sehingga lebih mudah dikuliti. “Selain lebih mudah melakukan proses pengulitan, juga untuk menjaga higienitas proses pemotongan sapi karena sapi tidak menyentuh lantai sama sekali,” sambung Ralph.
Setelah dikuliti, sapi dipotong setiap bagiannya, di antaranya potongan beef shin, topside, knuckle, rump, tenderloin, skirt, striploin, cube roll, chuck, dan brisket (sanding lamur). Sedangkan bagian jeroan sapi akan dikeluarkan, dipotong, dan dikemas tersendiri di sebuah ruangan khusus agar tidak tercampur dengan bagian daging.
Daging sapi yang sudah dipotong, langsung dikemas dengan plastik vakum. Tak ada satu potong daging pun yang dicuci dengan air. Proses pemotongan dengan higienitas tingkat tinggi menjadi salah satu alasan mengapa daging sapi Australia tak perlu dicuci dengan air. “Proses pencucian daging dengan air justru bisa membuat daging terkontaminasi bakteri,” tutur Ralph.
Proses pengemasan daging dilakukan secara otomatis melalui sebuah mesin berjalan. Sebuah metal detector juga digunakan untuk mendeteksi material lain yang mungkin menempel pada daging. Metal detector akan berbunyi jika daging sapi yang melintas ternyata membawa kotoran atau bahan lain yang dapat membahayakan konsumen.  “Metal detector ini salah satu prosedur untuk menjamin food safety yang wajib dilakukan,” tegas Ralph.
Daging sapi siap ekspor seluruhnya dikemas secara vakum, dibekukan, dan langsung diekspor. Pembekuan daging (freezing) merupakan salah satu prosedur untuk mencegah pertumbuhan bakteri merugikan sehingga kualitas daging tetap terjaga baik sampi di negara tujuan. Dalam sehari, Harvey Abattoir sedikitnya memproses hingga 3 ribu ekor sapi. Semuanya terkontrol dengan baik, higienis, dan memastikan daging dalam kondisi terbaik sampai ke konsumen. Bravo daging sapi Australia!

"Saya Tunggu Komentar dan Saran Anda"

Sumber : http://www.sajiansedap.com