Rabu, 26 September 2012

Perbedaan Sapi, Banteng dan Kerbau

         Untuk memenuhi permintaan salah satu pembaca, BerbagaiHal kali ini akan membahas tentang perbedaan antara Sapi, Lembu, Banteng dan Kerbau. Kesemua binatang ini memang dapat sering kita jumpai sehari-hari. Dengan melihatnya saja pun kita sudah dapat membedakan yang mana sapi, yang mana kerbau dan yang mana banteng. Namun jika diminta untuk menjelaskan perbedaan antara semuanya, mungkin kita akan sedikit kerepotan. Untuk itu, tulisan ini juga dimaksudkan untuk membantu anda menjawab hal tersebut jika suatu waktu anda diminta untuk menjelaskan perbedaannya.

Sapi


Perlu anda ketahui sebelumnya, semua binatang yang kita bahas dalam tulisan ini masuk ke dalam anggota familia Bovidae dan subfamilia Bovinae. Sapi yang memiliki nama binomial Bos taurus ini kadang juga disebut sebagai lembu di beberapa daerah di Indonesia. Jadi lembu dapat dikatakan sama dengan sapi, dan hanya merupakan istilah penyebutan lain bagi sapi.

Sapi dipelihara sebagai hewan ternak untuk dimanfaatkan terutama susu dan dagingnya sebagai bahan pangan. Di sejumlah tempat, sapi juga biasa dipakai untuk membantu bercocok tanam, seperti menarik gerobak atau bajak. Menariknya, sapi Bali yang paling banyak dimanfaatkan dagingnya di Indonesia, meski memiliki nama sapi, sebenarnya bukan lah sapi melainkan seekor banteng. Hal ini dikarenakan sapi Bali merupakan domestikasi dari banteng dan lebih memiliki ciri seekor banteng dibanding dengan seekor sapi.

Kerbau


Meskipun kerbau berasal dari subfamilia yang sama dengan sapi, tapi kerbau berasal dari genus yang berbeda. Jika sapi berasal dari genus Bos, maka kerbau berasal dari genus Bubalus. Kerbau sendiri memiliki nama ilmiah Bubalus bubalis. Kerbau dapat hidup dengan efisien dalam masa-masa kekurangan pakan, yang menyebabkan hewan itu lebih tahan hidup jika dibandingkan dengan sapi.

Kerbau memiliki tanduk yang sangat besar, dengan ukuran rata-rata 1 m, jauh lebih besar dibanding tanduk sapi. Kerbau juga dikenal sebagai hewan yang sering menyerang walau tanpa diprovokasi. Ini menyebabkan kerbau masih menjadi hewan yang bisa berbahaya bagi manusia. Bobot kerbau dewasa dapat mencapai berat sekitar 300 kg hingga 600 kg. Kerbau liar dapat memiliki berat yang lebih lagi, kerbau liar betina dapat mencapai berat hingga 800 kg dan kerbau liar jantan dapat mencapai berat hingga 1200 kg. Berat rata-rata kerbau jantan adalah 900 kg dan tinggi rata-rata di bagian pundak kerbau adalah 1,7 m.

Klasifikasi kerbau sendiri masih belum pasti, namun ada beberapa yang mengelompokkan kerbau sebagai suatu spesies dengan tiga subspesies yaitu kerbau sungai (B. bubalis bubalis), kerbau rawa (B. bubalis carabanesis) dan kerbau liar (B. bubalis arnee). Kerbau rawa memiliki kromosom dengan jumlah 48 sementara kerbau sungai memiliki 50 kromosom. Kedua subspesies ini masih dapat dikawinkan dan menghasilkan keturunan. Namun mereka tidak dapat berkembang biak dengan sapi yang memiliki 60 kromosom.

Kerbau banyak dimanfatkan oleh manusia terutama untuk tenaganya yang biasa digunakan untuk menarik pedati. Kerbau juga sering digunakan untuk membajak sawah, karena mereka dapat bergerak di atas lumpur jauh lebih baik daripada sapi. Karena kadar lemak dari susu kerbau yang sangat tinggi, susu kerbau dapat menghasilkan produk olahan yang sangat lezat seperti keju Mozzarella dan Dadiah (sejenis yoghurt dari Minangkabau). Kulit kerbau juga sering digunakan sebagai bahan sepatu, wayang kulit dan helm sepeda motor. Sementara dagingnya kurang disukai karena kekerasannya.

Banteng


Banteng memiliki nama ilmiah Bos javanicus, dan memiliki genus yang sama dengan sapi. Banteng dapat mencapai tinggi sekitar 1,6m di bagian pundaknya dan panjang badan 2,3 m. Berat banteng jantan biasanya sekitar 680-810 kg sedangkan betinanya lebih ringan. Banteng memiliki ciri khusus yang membedakannya dengan sapi, yakni bagian putih pada kaki bagian bawah dan pantat, punuk putih, serta warna putih disekitar mata dan moncongnya.
Banteng jantan memiliki kulit berwarna biru-hitam atau coklat gelap, tanduk panjang melengkung ke atas, dan punuk di bagian pundak. Sementara, betinanya memiliki kulit warna coklat kemerahan, tanduk pendek yang mengarah ke dalam dan tidak berpunuk. Banteng umumnya aktif baik malam maupun siang hari, tapi pada daerah pemukiman manusia, mereka beradaptasi sebagai hewan nokturnal. Banteng memiliki kecenderungan untuk berkelompok pada kawanan berjumlah dua sampai tiga puluh ekor.

Banteng telah didomestikasi di beberapa daerah di Asia Tenggara dan Australia dan dikenal sebagai sapi Bali. Sapi Bali merupakan sumber daya genetik hewan asli Indonesia, karena kerabat liarnya ada di Indonesia. Keunggulan sapi Bali diantaranya memiliki efisiensi reproduksi yang tinggi, daging dan karkasnya berkualitas baik dan persentase karkasnya tinggi (bisa mencapai 57%), memiliki daya adaptasi terhadap lingkungan yang sangat baik, dan yang tidak kalah penting adalah kemampuannnya menggunakan sumber pakan yang terbatas.

 "Saya Tunggu Komentar dan Saran Anda"
Sumber :  http://www.berbagaihal.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar